Thursday, May 28, 2009

PUISI KATANYA!

EKA P KUSUMAH

GERIMIS

Senja tersiram hujan, dipenghujung nopember

Setelah puisi ku larut dalam segelas capucino

Itupun tak lama setelah dedaunan bercerita tentang bunga yang ranum dalam kelopaknya

Lalu........... kunang-kunang menyapa dalam sisa gerimis.

Masih adakah nyanyian dalam kehangatan balutan sutera

Ketika dinginya waktu beringsut dicakrawala.

Nopember 1998

MASIH JANUARI

Masih saja berdiri mencari garis-garis yang memanjang saling memotong

Masih saja tertegun dalam balutan bait-bait keraguan

Masih saja bernyanyi lantunkan symphoni memabukan

Dan diantara beningnya cahaya matamu

Kutangkap .... aroma harumnya keniscayaan

Membelah nurani hingga tak berujung

Menggoda ..... landai dan meruncing.

Jan 00

RINAI

Rinai .....

Haruskah aku bertanya tentangnya?

..... hanya terdiam dalam kepekatan.

Rinai ......

Dimanakah gerangan kasihnya?

..... hanya bayangan yang coba menjawab dengan kebisuan.

Rinai .... ..

Akankah ia berkunjung padaku?

..... hanya ketika pintu itu diketuk oleh waktu.

Rinai ........

Bolehkah ciuman membangunkan tidurnya?

...... tidak hanya untukmu,.... dan bukan juga untuknya!

Rinai ....., lalu,......

Biarkan aku terbakar ole api cemburumu...

Maret 00

PENYAIR TUA

Ia sudah lupa cara menata kata

Ia sudah lupa bagaimana bertutur

Ia sudah pula lupa menumpahkan semangkuk makna

Ketika ia tertidur bermimpi dalam lautan kosakata

Lalu ketika ia terbangun........

Tak mampu lagi bertanya tentang arti semantik

......hingga hanya bertemankan matahari yang selalu setia

......hingga tinggal gunung bisu yang masih ajeg dalam duduknya

.....kemudian iapun bergegas untuk tidur dalam keabadianNya

April 2001

TUHAN TUHAN

Kau bicarakan tuhan mu seakan hanya tuhanmu yang paling hebat

Kau kabarkan hanya tuhanmu yang dikenal oleh tuhan-tuhan mereka

Ketika tuhan-tuhan mereka belum lahir tuhanmu tahu itu

Kata-kata tentang tuhanmu menggelegak menusuk kerongkongan...

Tuhanmu dan tuhan mereka berkongsi dalam nyanyian awan

Menebar angin yag menyibakan keheranan

Membelah angkasa dengan nyanyian perang

Lalu setelah itu tertawa dalam bau amis darah perawan

Katanya tuhanmu yang berwujud dalam keabadian

Tanpa bayangan dalam sorot cahaya

Bermakna dalam tatap mentari

Sanggup memeluk gunung dengan dua hasta dekapan

Kini dalam keakuan kau bertanya tentang tuhanku

Dimana gerangan dia?

Tunjukan siapa dia?

Hadirkan dalam pusaran waktunya!

........... ilalang menjawab dengan tanya

Wahai tuhan kau dan tuhan-tuhan mereka!....

Tuhanya takan pernah kenal dengan tuhanmu dan tuhan-tuhan mereka, mengapa?

Angin diam dalam renungannya...., api tertunduk dalam geloranya....

Segenap bintang... berseru tuhanya yang mecipta tuhanmu dan tuhan-tuhan mereka!!

Tuhanmu dan tuhan-tuhan mereka hanya kedipan mata tuhannya!

Tuhanmu dan tuhan-tuhan merekaabadi dalam ketidaktahuan akan tuhannya!

Karena tuhannya yang meciptakan keabadian, tanpa keraguan didalamnya!

Tuhanmu dan tuhan-tuhan mereka hanyalah getaran mistik darinya

Jangan kau tanya tuhannya!

Jangan kau hadirkan dia dalam pusarannya!

Waktupun bertanya siapa yang menghadirkannya!

Lalu semua terdiam dalam bisunya!

Hanya bianglala yang berdansa dalam pusaranya, menanti masa yang hilang berganti.

Des 1997

NYANYIAN TROTOAR

Sepanjang jalan itu kini memerah oleh bougenvile yang berguguran

Kanda teringat wanginya uap aspal yang baru tersiram hujan..

Basah, ....membuat resah lamunan

Dinda sempat memungut sekuntum bougenvile yang tercecer..

Menyematkannya di kuping kanan...

Sejurus menari,...riang dan sedikit nakal..

Dalam guyuran rinai gerimis sabtu sore

Berjingkat-jingkat kaki kecilmu melompati genangan air hujan di sepanjang trotoar jalan itu

Kerlingmu menebar hingga ke ujung tikungan di depan sana

Bidadari terpana akan senyumu

Burung-burung terdiam dalam gumaman senandungmu

Sehinga jam lupa untuk berdetak

Mentari enggan untuk menggelicir menutup hari!

Sept 1999

No comments: